Skip to main content

Rukun Puasa

Dalam beribadah seperti sholat haji umroh nikah tidak terlepas dari Syarat dan Rukun, begitu juga dengan puasa ada syaratnya juga ada rukunnya, Rukun disebut juga sebagai fardu, dalam artian rukun puasa artinya sama dengan fardu puasa. secara bahasa rukun adalah ما وجب وانقطع sesuatu yang wajib dikerjakan dalam berpuasa namun sifatnya terputus antara satu dengan yang lainnya.

Rukun puasa / fardu puasa hanya ada dua yaitu:

Pertama Niyat pada malamnya di dalam hati, yaitu setiap malam untuk setiap hari selama bulan romadhon.

       Sabda rosululloh Saw 

من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له

barang siapa yang tidak niyat puasa pada malamnya sebelum fajar terbit, maka tiada puasa baginya (Riwayat lima orang ahli hadits)

Karena tempatnya niyat adalah hati, maka niat puasa juga cukup didalam hati saja, tidak disyaratkan untuk melafalkannya, namun jika niat tersebut di lafalkan itu lebih baik bahkan hukumnya sunah. 

Niat tidak cukup hanya dengan makan diwaktu sahur saja meskipun tujuan makannya supaya kuat puasa selama tidak terbesit di dalam hatinya untuk beerpuasa dengan sifat-sifat niat yang harus dijelaskan (yang dimaksud sifat- sifat tersebut seperti Romadhon, kifarat, nadzar atau kodo) , Niat juga tidak cukup hanya dengan menahan diri dari semua yang membatalkan puasa karena takut sudah terbit pajar selama tidak terbesit didalam hatinya untuk berpuasa dengan sifatan niatnya.

jika seseorang berniat di awal romadhon, niat sekali untuk sepanjang bulan, maka niat tersebut hanya berlaku satu hari saja. artinya tanggal dua dan tanggal seterusnya harus niat lagi, karena masa aktif niat hanya berlaku untuk satu hari saja. beda halnya jika bertaklid kepada imam maliki atau kepada imam abu hanifah  yang membolehkan satu kali niat untuk sepanjang romadon. karena untuk antisipasi ketika lupa berniat. masih tetap hasil puasanya. Namun jika tidak ada maksud taklid kepada Al-imam maliki atau Al-imam abu hanifah maka tidak boleh niat disekaliguskan.

Syarat  niat di dalam puasa pardu, (baik puasa romadhon, kifarat, nadzar atau puasa istisqo yang diperintah langsung oleh raja). adalah harus تبييت artinya Niatnya harus di waktu malam dari mulai terbenam matahari sampai terbit fajar, meskipun yang puasanya مميز anak kecil yang sudah tamyiz.\

jika seseorang merasa ragu apakah dia berniatnya itu sebelum fajar atau setelah terbit fajar, maka niatnya tidak sah karena ada kayidah fiqih لأن الأصل ععدم وقوعها ليلا karena pada dasarnya niat itu tidak terjadi di waktu malam. إذ الأصل في كل حادث تقديره بأقرب زمن karena pada dasarnya semua yang baru itu diperkirakan pada zaman yang lebih dekat. 

beda halnya jika seseorang yang sudah berniat kemudian dia merasa ragu apakah sudah terbit fajar atau belum, maka niatnya sah, karena da kayidah fiqih لأن الأصل عدم طلوعه karena pada dasarnya fajar belum terbit. 

Syarat niat puasa fardu yang kedua diharuskan تعيين menentukan puasa yang akan dilaksanakan, seperti menyebut puasa Romadhon, kifarat, atau puasa nadzar. seseorang yang hendak berpuasa dia harus berniat diwaktu malam bahwasanya dia itu akan puasa romadhon esok harinya, atau puasa nadzar atau puasa kifarat. jadi dalam niat puasa wajib itu harus ada kejelasan beda halnya dengan puasa sunah.




Comments

Popular posts from this blog

Keutamaan Mencari ilmu dan mengamalkannya

Pada kesempatan kali ini Admin akan memaparkan tentang keutamaan mencari ilmu dan mengamalkannya, Namun sebelumnya mimin akan memaparkan dulu tentang definisi dari kata ilmu. Secara global ilmu didefinisikan dengan dua definisi yaitu definisi menurut bahasa dan definisi menurut istilah. Secara bahasa Ilmu berasal dari bahasa arab (علم)yang artinya peengetahuan pengertian tersebut merupakan pengertian menurut bahasa. Sedangkan ilmu menurut istilah Para ulama berbeda cara dalam  mendefinisikannya, diantara perbedannya adalah sebagai berikut: Pertama definisi ilmu adalah  الإدرك artinya ilmu adalah sekadar mengetahui sesuatu, yang dimaksud الإدرك adalah وصول النفس إلى تمام المعنى sampainya hati dalam memahami makna yang sempurna. atau وصول النفس إلى المعنى بتمامه artinya Sampainya hati dalam memahami kesempurnaan makna. jika ilmu didefinisikan dengan definisi tersebut maka menurut Ulama Ahli makulat ilmu termasuk makulat Fa'lu Kedua definisi ilmu adalah الملكة artinya Melekat, ar...

Induk Penyakit Hati

 Hati adalah pusat kehidupan seseorang, sebagaimana sabda Rosululloh Saw الا أن في الجساد مضغة إذا صلحت صلح الجساد كله وإذا فسدت فسد الجساد كله ألا وهي القلب I ngatlah, Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging, bila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan bila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad, Ingat, itulah Hati . Dari hadits di atas kita tahu bahwa kehidupan manusia baik atau buruknya tergantung keadaan hatinya, karena itu jagalah hati janga sampai ternodai oleh sifat-sifat yang akan membuatnya menjadi rusak, kotor dan gelap. sehingga yang akhirnya menjadikan hati buta Sebagian Ulama Ahli hikmah menyebutkan bahwa: Induk segala kesalahn yang terdapat dalam hati  ada tiga yaitu  1. Takabur (sombong),  Takabur atau sombong pada mulanya berasal dari iblis ketika dia diperintah untuk bersujud kepada Adam Namun dia menolak karena merasa dirinya lebih mulia dari manusia, Sehingga akhirnya Iblis diusir dari Syurga secara hina dan akan dilaknat sepanjang masa. Ibl...

Shigot dan Faidah membaca Sholawat Ibrohimiyah

SHOLAWAT PERTAMA SHOLAWAT IBROHIMIYAH Sholawat Ibrohimiah adalah Shighot Sholawat yang paling sempurna dikarenakan ma’tsur dari Rosulullah Saw, dan hadits tentang sholawat ini adalah hadits sohih seperti yang telah diriwayatkan oleh imam malik dalam kitab Muathonya, dan oleh imam Bukhori dan muslim dalam Sohihnya, dan oleh imam Abu dawud, Athirmidzi dan Annasai. Semua ulama sepakat tentang kesohihannya. Shigot sholawat yang terdapat dalam hadits adalah tanpa Assayadah ( سَيِّدِنَا ). Seperti berikut: للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وعلى آلِ إبْراهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما بَاركْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آل إبراهيم في العالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ Imam Asyamsu Romli telah berpendapat dalam kitab Syarah Minhaj bahwa yang paling utama dan paling beradab ketika bersholawat adalah dengan menambah Assayadah ( سَيِّدِنَا ) sebelum lafadz muhammad. Memakai lafadz sayidina ketika bersholawat itu ...